Blended Learning “Flipped Classroom” salah satu strategi pembelajaran PPKN di Era New Normal Pandemi covid 19

 




Saat ini tahun 2020 adalah terjadi sebuah peristiwa yang menghantam segala sendi kehidupan termasuk dunia pendidikan dimana tahun 2020 ini terjadi Pandemi Wabah Covid 19 maka sistem belajar dalam dunia Pendidikan di Indonesia berubah drastis dengan meniadakan pembelajaran tatap muka, hal tersebut menjadi sebuah tantangan bagi semua pihak yang terkait dengan dunia pendidikan dimana tujuannya diharapkan dapat mempersiapkan peserta didik menjadi warga Negara yang memiliki komitmen kuat dan konsisten untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

 Dengan hal tersebut maka permaslahan Konstitusi Negara Republik Indonesia perlu dan harus ditanamkan kepada seluruh komponen bangsa Indonesia, khususnya generasi muda sebagai generasi penerus. Karena Dengan memiliki tingkat kesadaran akan konstitusi maka diharapkan peserta didik dapat menjadi warga negara yang memiliki Komitmen yang kuat dan konsisten terhadap prinsip dan semangat kebangsaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Sehingga Indonesia dapat menjadi negara yang demokratis sesuai dengan jiwa Pancasila maka kehidupan yang demokratis didalam kehidupan sehari-hari di lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat, pemerintahan, dan organisasi-organisasi non pemeritahan perlu dikenal, dipahami, diinternalisasi, dan diterapkan demi terwujudnya pelaksanaan prinsip-prinsip demokrasi serta demi peningkatan martabat kemanusian, kesejahteraan, kebahagiaan, kecerdasan dan keadilan.

 Mata Pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan warganegara yang memahami dan mampu melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untuk menjadi warga Negara yang baik, yang cerdas, terampil, dan berkarakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (Citizenship Education) merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan diri yang beragam dari segi agama, sosio-kultural, bahasa, usia, dan suku bangsa.

 Berdasarkan hasil pengamatan dan pengalaman selama ini, siswa kurang aktif dalam kegiatan belajar-mengajar. Anak cenderug tidak begitu tertarik dengan pelajaran PPKn karena selama ini pelajaran PPKn dianggap sebagai pelajaran yang hanya mementingkan hafalan semata, kurang menekankan aspek penalaran sehingga menyebabkan rendahnya minat belajar PPKn siswa di sekolah, Banyak faktor yang menyebabkan minat belajar PPKn siswa rendah yaitu faktor internal dan eksternal dari siswa. Ditambah kondisi saat pandemi  ini maka haruslah perlu dicari strategi baru dalam pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif Pembelajaran yang mengutamakan penguasaan kompetensi harus berpusat pada siswa (Focus on Learners), memberikan pembelajaran dan pengalaman belajar yang relevan dan kontekstual dalam kehidupan nyata (provide relevant and contextualized subject matter) dan mengembangkan mental yang kaya dan kuat pada siswa. Disinilah guru dituntut untuk merancang kegiatan pembelajaran yang mampu mengembangkan kompetensi, baik dalam ranah kognitif, ranah afektif maupun psikomotorik siswa.

 Dan dengan hilangnya pembelajaran secara tatap Muka pada saat pandemi ini maka solusinya adalah pembelajaran melalui sistem daring/online dengan menggunakan E – Learning System atau LMS (Learning Management System) salah satunya. Melalui e-learning ini, pembelajaran bisa dilakukan tanpa tatap muka atau hadir dikelas, karena pembelajaran di bantu dengan adanya media internet yang dapat bebas di akses tanpa keterbatasan ruang dan waktu. E-learning adalah salah satu model pembelajaran yang berbasis web. Dan saat ini sekolah tempat PPL ini peserta didiknya jam belajar terbagi dua hal pertama secara daring dan luring dengan pembagian seminggu daring dan seminggu luring. Oleh karena yang sesuai adalah dengan metode blended learning yaitu perpaduan antyar daring dan luring,dan agar tujuan tersebut dapat dicapai maka dibuatlah Strategi pembelajaran yang berpusat pada siswa dan peciptaan suasana yang menyenangkan sangat diperlukan untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran PPKn. Dalam hal ini penulis memilih metode “pembelajaran berbasis masalah (PROBLEM  BASED LEARNING) Menggunakan model blended learning filpped classroom dimana ada  jam pembelajaran secara daring dan ketika luring maka diskusi dilakukan antar kelompok peserta didik untuk materi dalam meningkatkan kemampuan pemahaman materi.

 Pembelajaran berbasis masalah adalah suatu proses belajar mengajar didalam kelas secara (luring/daring) dimana siswa terlebih dahulu diminta mengobservasi suatu fenomena. Kemudian siswa diminta untuk mencatat permasalahan-permasalahan yang muncul, setelah itu tugas guru adalah merangsang untuk berfikir kritis dalam memecahkan masalah yang ada. Tugas guru mengarahkan siswa untuk bertanya, membuktikan asumsi, dan mendengarkan persfektif yang berbeda diantara mereka.

   

1.       1. Hakekat Pembelajaran PPKN

a. Pengertian belajar

Belajar merupakan proses perubahan yang terjadi pada diri seseorang melalui penguatan ( reinforcement), sehingga terjadi perubahan yang bersifat permanen dan persisten pada dirinya sebagai hasil pengalaman (Learning is a change of behaviour as a result of experience), demikian pendapat John Dewey, salah seorang ahli pendidikan Amerika Serikat dari aliran Behavioural Approach.

Perubahan yang dihasilkan oleh proses belajar bersifat progresif dan akumulatif, megarah kepada kesmpurnaan, misalnya dari tidak mampu menjadi mampu, dari tidak mengerti menjadi mengerti, baik mencakup aspek pengetahuan (cognitive domain), aspek afektif (afektive domain) maupun aspek psikomotorik (psychomotoric domain). Belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungan[4]

 Ada empat pilar belajar yang dikemukakan oleh UNESCO, yaitu :

1.       Learning to Know, yaitu suatu proses pembelajaran yang memungkinkan siswa menguasai tekhnik menemukan pengetahuan dan bukan semata-mata hanya memperoleh pengetahuan.

2.       Learning to do adalah pembelajaran untuk mencapai kemampuan untuk

melaksanakan Controlling, Monitoring, Maintening, Designing, Organizing. Belajar dengan melakukan sesuatu dalam potensi yang kongkret tidak hanya terbatas pada kemampuan mekanistis, melainkan juga meliputi kemampuan berkomunikasi, bekerjasama dengan orang lain serta mengelola dan mengatasi koflik

3.       Learning to live together adalah membekali kemampuan untuk hidup bersama dengan orang lain yang berbeda dengan penuh toleransi, saling pengertia dan tanpa prasangka.

4.       Learning to be adalah keberhasilan pembelajaran yang untuk mencapai

tingkatan ini diperlukan dukungan keberhasilan dari pilar pertama, kedua dan ketiga. Tiga pilar tersebut ditujukan bagi lahirnya siswa yang mampu mencari informasi dan menemukan ilmu pengetahua yang mampu memecahkan masalah, bekerjasama, bertenggang rasa, dan toleransi terhadap perbedaan. Bila ketiganya behasil dengan memuaskan akan menumbuhkan percaya diri pada siswa sehingga menjadi manusia yang mampu mengenal dirinya, berkepribadian mantap dan mandiri, memiliki kemantapan emosional dan intelektual, yang dapat mengendalikan dirinya dengan konsisten, yang disebut emotional intelegence (kecerdasan emosi).

b.       Pengertian pembelajaran.

Menurut Jugiyanto (2006:12) pembelajaran dapat diartikan sebagai,

Suatu proses yang mana suatu kegiatan berasal atau berubah lewat reaksi dari suatu situasi yang dihadapi, dengan keadaan bahwa karateristik-karateristik dari perubahan aktivitas tersebut tidak dapat dijelaskan dengan dasar kecenderungan-kecenderungan reaksi asli, kematangan, atau perubahan-perubahan sementara dari organism.

 c.       Pengertian Minat Belajar

1.    Pengertian minat. Menurut Slameto (2003:180) minat “adalah suatu rasa lebih suka atau rasa keterikatan pada suatu hal tanpa ada yang menyuruh.” Sementara itu, menurut Djaali (2008:121) suatu minat dapat diekspresikan melalui suatu pernyataan yang menunjukkan bahwa peserta didik lebih menyukai suatu hal dari pada lainya, dapat pula dimanifestasikan melalui partisipasi suatu aktifitas. Minat diperlukan untuk menimbulkan perhatian. Perhatian yang penuh pada peserta didik akibat timbulnya minat dapat memacu partisipasi peserta didik dalam pembelajaran.

2.    Pengertian minat belajar. Berdasarkan pengertian di atas, maka minat belajar dapat diartikan sebagai rasa suka dan rasa ketertarikan terhadap proses untuk melakukan sesuatu yang bertujuan merubah tingkah laku dan memberikan pengalaman.

3.    Faktor-faktor yang mempengaruhi minat belajar. Beberapa faktor yang mempengaruhi minat belajar peserta didik, menurut Totok (dalam Sholahuddin, 2012), adalah (1) motivasi dan cita-cita, (2) keluarga, (3) peran guru (4) sarana dan prasarana, (5) teman pergaulan, dan (6) mass media. Sementara itu, menurut Reber (dalam Syah, 2010:133) minat bergantung banyak pada faktor-faktor internal  seperti: pemusatan perhatian, keingintahuan, motivasi, dan kebutuhan.

4.    Indikator minat belajar. Menurut Mikarsa (dalam Krisniawan, 2012:23) indikator minat belajar adalah sebagai berikut:

1)      Kesadaran

2)      Perhatian

3)      Kemauan

4)      Perasaan senang

Masing-masing aspek tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

1)        Kesadaran

Seorang bisa dikatakan berminat terhadap objek, apabila orang tersebut menyadari adanya objek tersebut. Unsur itu harus ada pada individu, karena dengan kesadaran inilah pada dirinya akan timbul rasa senang, kemudian rasa ingin tahu dan ingin memiliki objek tersebut.

2)        Perhatian

Perhatian adalah keaktifan jiwa yang dipertinggi, artinya usaha jiwa lebih kuat dari biasanya dan jiwa itupun semata-mata tertuju pada suatu objek atau sekumpulan objek-objek.

3)        Kemauan

Kemauan diartikan sebagai dorongan keinginan yang terarah pada suatu tujuan hidup tertentu dan dikendalikan oleh pertimbangan akal budi kemauan itu merupakan dorongan keinginan pada setiap manusia untuk membentuk dan merealisasikan diri, dalam arti mengembangkan bakat dan kemampuannya.

4)        Perasaan senang

Perasaan senang dibawa oleh seseorang sebagai sumber kekuatan dalam belajar lebih lanjut. Antara minat dan perasaan senang terdapat hubungan timbal balik, sehingga tidak mengherankan jika seorang yang mempunyai perasaan tidak senang terhadap suatu objek juga akan berkurang minat terhadap tersebut dan sebaliknya.

d.      Pengertian Pendidikan Kewarganegaraan

 Pendidikan kewarganegaraan adalah sebagai wahana untuk mengembangkan kemampuan, watak dan karakter warganegara yang demokratis dan bertanggung jawab. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pelajaran PPKn dalam rangka “nation and character building” :

Pertama : PPKn merupakan bidang kajian kewarganegaraan yang ditopang berbagai disiplin ilmu yang releven, yaitu: ilmu politik, hukum, sosiologi, antropologi, psokoliogi dan disiplin ilmu lainnya yang digunakan sebagai landasan untuk melakukan kajian-kajian terhadap proses pengembangan konsep, nilai dan perilaku demokrasi warganegara.

Kedua : PPKn mengembangkan daya nalar (state of mind) bagi para peserta didik. Pengembangan karakter bangsa merupakan proses pengembangan warganegara yang cerdas dan berdaya nalar tinggi. PPKn memusatkan perhatiannya pada pengembangan kecerdasan warga negara (civic intelegence) sebagai landasan pengembangan nilai dan perilaku demokrasi.

Ketiga : PPKn sebagai suatu proses pencerdasan, maka pendekatan pembelajaran yang digunakan adalah yang lebih inspiratif dan partisipatif dengan menekankan pelatihan penggunaan logika dan pealaran. Untuk menfasilitasi pembelajaran PPKn yang efektif dikembangkan bahan pembelajaran yang interaktif yang dikemas dalam berbagai paket seperti bahan belajar tercetak, terekam, tersiar, elektronik, dan bahan belajar yang digali dari ligkungan masyarakat sebagai pengalaman langsung (hand of experience).

Keempat: kelas PPKn sebagai laboratorium demokrasi. Melalui PPKn, pemahaman sikap dan perilaku demokratis dikembangkan bukan semata-mata melalui ‘mengajar demokrasi” (teaching democracy), tetapi melalui model pembelajaran yang secara langsung menerapkan cara hidup secara demokrasi (doing democracy). Penilaian bukan semata-mata dimaksudkan sebagai alat kedali mutu tetapi juga sebagai alat untuk memberikan bantuan belajar bagi siswa sehingga lebih dapat berhasil dimasa depan. Evaluasi dilakukan secara menyeluruh termasuk portofolio siswa dan evaluasi diri yang lebih berbasis kelas.

 e.       Pengertian Pembelajaran berbasis masalah

Menurut E. Mulyana Pembelajaran aktif dengan menciptakan suatu kondisi dimana siswa dapat berperan aktif, sedangkan guru bertindak sebagai fasilitator[1]  Pembelajaran harus dibuat dalam suatu kondisi yang menyenangkan sehingga siswa akan terus termotivasi dari awal sampai akhir kegiatan belajar mengajar (KBM) secara daring . Dalam hal ini pembelajaran dengan Problem Based Learning sebagai salah satu bagian dari pembelajaran CTL (Contextual Teaching and Learning) merupakan salah satu alternatif yang dapat digunakan guru disekolah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran PPKn.

Berdasarkan uraian diatas maka Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini, dirancang untuk mengkaji penerapan pembelajaran model “Problem Based Learning” dalam meningkatkan kemampuan menelaah Ketentuan UUD NRI 1945 Tentang Wilayah Negara, Warga Negara, Kemerdekaan Beragama dan berkepercayaan serta Pertahanan dan keamanan dalam mata pelajaran PPKn.

 2. Pembelajaran e learning

 Menurut Sukartawi (dalam Wena, Made, 2010, hlm. 216) mengemukakan bahwa “e-learning adalah pembelajaran yang pelaksanaannya didukung oleh jasa teknologi, seperti telepon, audio, videotipe, transmisi satelit atau komputer” Hal ini disebabkan karena memang bentuk model pembelajaran ini menggunakan media yang berbasis elektronik. Menurut Waller & Wilson(dalam Wena, Made, 2010, hlm. 212) mengemukakan “Penerapan e-learning sebagai sistem pembelajaran sudah mulai dilakukan oleh beberapa instansi pendidikan di Indonesia.

 3. Pembelajaran “blended Learning”

 Blended learning merupakan gabungan 2 istilah Bahasa Inggris, yaitu: blended dan learning. Kata blend artinya campuran, sedangkan learn yang artinya belajar. Makna dasar sebenarnya me- ngandung belajar campuran, sehingga dapat dikatakan pembelajaran yang mengunakan berbagai macam cara. Para ahli sepakat bahwa istilah blended learning merupakan perpaduan pembelajaran secara konven- sional dan daring. Semler dalam Husamah (2013: 11) bahwa blended learning mengkombonasikan ranah terbaik dari pembelajaran daring, aktivitas tatap muka terstruktur, dan praktek dunia nyata. Pembiasaan penggunaan blended learning diperlukan, dikarenakan untuk mengurangi dan/atau mencegah siswa menggunakan komputer dan telepon genggam untuk hal negatif. Tindakan seperti bermain game, media sosial, dan menonton video secara berlebihan. Hal ini sebagai pengalihan tindakan yang bisa dilakukan. Blended learning yang memiliki karakteristik terdapat pengawasan oleh guru dan orang, merupakan hal yang ingin capai. Seminar Nasional Pendidikan PGSD UMS & HDPGSDI Wilayah Jawa 515 Kegiatan blended learning memiliki kelebihan menurut Husamah (2013: 231).

 

 1) Pembelajaran terjadi secara mandiri dan konvensional yang keduanya memiliki kelebihan yang dapat saling melengkapi;

2) Pembelajaran lebih efektif dan efisien;

3) Meningkatkan aksesabilitas;

4) Peserta didik leluasa untuk mempelajari materi pelajaran secara mandiri dengan memanfaatkan materi-materi yang tersedia secara daring;

5) Peserta didik dapat melakukan diskusi dengan pengajar atau peserta didik lain di luar jam tatap muka;

6) Kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh peserta didik di luar jam tatap muka dapat dikelola dan dikontrol dengan baik oleh pengajar;

7) Pengajar dapat menambahkan materi pengayaan melalui fasilitas internet;

8) Pengajar dapat meminta peserta didik untuk membaca materi atau mengerjakan tes yang dilakukan sebelum pembelajaran;

9) Pengajar dapat menyelenggarakan kuis, memberikan balikan, dan memanfaatkan hasil tes secara efektif;

10) Peserta didik dapat saling berbagi file atau data dengan siswa lain;

11) Memperluas jangkauan pembelajaran/pelatihan;

12) Kemudahan implementasi; 13) Efisiensi biaya;

14) Hasil yang optimal;

15) Menyesuaikan berbagai kebutuhan pembelajaran; dan

16) Meningkatkan daya tarik pembelajaran. Kelebihan ini dapat dimanfaatkan oleh guru, siswa dan wali murid.

 Keefektifan blended learning masih memiliki celah untuk sebagai bahan dampak pelaksanaan antara lain:

1) Media yang dibutuhkan sangat beragam, sehingga sulit diterapkan apabila sarana dan prasarana tidak mendukung; 2) Tidak meratanya fasilitas yang dimiliki peserta didik, seperti komputer dan akses internet. Padahal, Blended Learning memerlukan akses internet yang memadai dan bila jaringan kurang memadai, itu tentu akan menyulitkan peserta didik dalam mengikuti pembelajaran mandiri via daring; dan 3) Kurangnya pengetahuan sumber daya pembelajaran (pengajar, peserta didik dan orang tua) terhadap penggunaan teknologi (Husamah, 2013: 36). Kelemahan tersebut bisa dilakukan seminimilisir dalam pembelajaran. Penentuan media melalui google classroom sebagai keterbatasan yang harus dilakukan. Pembiasaan penggunaan ini perlunya diberikan pelatihan kepada siswa atau wali murid untuk mempermudahkan keterterapan yang akan dilakukan.

 Bahwa, ““blended Learning”” merupakan kombinasi strategi penyampaian materi yang tepat dalam format yang tepat untuk orang yang tepat pada saat yang tepat. ““blended Learning”” mengkombinasikan beragam media penyampaian yang dirancang untuk saling melengkapi satu sama lain danmendorong terjadinya proses belajar yang optimal, Khan (2005, p. 202). Dengan kata lain, tujuan dilaksanakannya strategi pembelajaran ““blended Learning”” adalah untuk mengkombinasikan kelebihan pembelajaran tatap muka dan kelebihan pembelajaran online. Untuk mencapai tujuan tersebut, perencanaan pembelajaran ““blended Learning”” menjadi penting untuk dilakukan sebelum Anda melaksanakan pembelajaran ““blended Learning”” di kelas. Dan  model pembelajaran ““blended Learning”” secara umum dapat di kelompokkan menjadi 4 model, yaitu: rotation model (model rotasi), flex model (model fleksibel), self-blend model (model pengaturan diri), dan enriched-virtual model; dimana rotation model sendiri dapat dikelompokkan lagi ke dalam 4 model, yaitu: station rotation model, lab rotation model, flipped classroom model, dan individual rotation model.

 4. Aplikasi Pembelajaran Daring

               Sistem pembelajaran yang dimaksud yang menggunakan Learning Management System (LMS). Menurut Ellis (2009: 1) LMS adalah aplikasi perangkat lunak untuk administrasi, dokumentasi, pelacakan, pelaporan dan penyampaian kursus pendidikan atau program pelatihan. LMS dapat dikatakan sebuah managemen pembelajaran yang disiapkan untuk siswa dan guru dalam melakukan pembelajaran melalui perangkat lunak. Adapun perangkat lunak LMS yang bisa digunakan antara lain: ACS, Blackboard, Certpoint, Moodle, Canvas, Candy CBT, Google Classroom, Forum Messenger dan sebagainya. Khusus Forum Messenger atau Whatsapp Forum adalah sebuah aplikasi percakapan dengan video yang di miliki oleh Facebook dan dapat disandingkan juga dengan Whatsapp serta dapat berbagi layar dengan kapasitas 50 peserta sekaligus sebagai media percakapan dan pada Candy CBT juga terdapat pluggin atau aplikasi tambahan yang terkoneksi langsung dengan facebook pada kolom komentar, dan Forum Messenger ini hampir sama dengan aplikasi zoom dan bersifat synchronous atau juga asynchronous. Kelebihannya dari forum messenger adalah Gratis, tidak perlu punya akun bagi yang bergabung saat forum berlangsung dan forum messenger bagian dari facebook yang sudah familiar bagi pengguna karena pengguna facebook diperkirakan adalah 2,5 Milyar seluruh dunia, dapat share screen juga dan dapat berdiskusi dikolom diskusi, tanpa batasan waktu. Namun tetap Forum messenger memiliki kelemahan yaitu jenis file yang dapat diupload pada kolom diskusi hanya teks, foto dan video saja, dan tidak bisa direkam tanpa bantuan aplikasi lainnya.

 

Solusinya adalah pilihlah aplikasi yang tepat dengan mengukur kemampuan guru dan sekolah serta peserta didik sehingga aplikasi pembelajaran daring dapat efektif. Pembelajaran Model Blended Learning ini sangat tepat digunakan karena dengan macam – macam kondisi. Penulis menggunakan metode ini dalam pembelajaran di saat era new normal dan menggunakan aplikasi lms sekolah dan Forum Messenger

 

 

Penulis Maliki Muslim, S.Pd

Mahasiswa PPG daljab 2020 Gel III

kampus Universitas Negeri Semarang

website artikel jabar Relasi Publik

Channel Youtube

Komentar